GELOMBANG
Oktober 17, 2021
penulis : Salsa
Bila Ratna Anwari
Kelas : XII IPA 2
Mata Pelajaran : Bahasa
Indonesia
Di
sebuah daerah yang amat subur, hiduplah seorang anak bernama Fikri, ia sangat
dikenal di desanya karena kenakalannya. Waktu itu, 20 September 2018. Fikri
sedang berbaring di kamarnya karena kelelahan akibat semalaman bermain PlayStation dengan teman-temannya. Fikri
yang seharian mengurung diri di kamar karena kelelahan membuat ibu Suri menjadi
kesal karena anaknya tak kunjung keluar kamar untuk makan dan sekolah.
“Fikri
bangun! Sudah jam 07.30 kamu terlambat sekolah. Bagaimana ini kalau pa guru datang
lagi kerumah karena kamu ga sekolah?” ucap ibu dari balik kamar Fikri
“Iya
bu sebentar, tidak akan terlambat kok bu sekolahnya. Sekarang Fikri kebagian
sekolah siang” jawab Fikri.
“Cepat
Fikri sudah siang kamu harus mandi dan sarapan dulu” suruh ibu.
Sebenarnya Fikri pun sudah terkenal di sekolahnya karena
ia merupakan anak yang sering didatangi oleh wali kelas karena tugas-tugas yang
masih kosong dan kehadiran yang bolong-bolong. Fikri pun akhirnya keluar kamar
untuk mandi dan makan, setelah itu ia mengenakan seragamnya untuk pergi
sekolah.
Tapi ternyata Fikri tidak pergi
kesekolah melainkan bermain bersama teman-temannya yang sama nakalnya dengan Fikri.
Mereka bolos sekolah untuk bermain tanpa sepengetahuan kedua orang
tuanya. Padahal orang tua mereka berfikir bahwa anak-anaknya berangkat
kesekolah.
Di lapang mereka bermain dengan asik, tanpa disadari
waktu pun menunjukkan pukul 15.00 yang dimana seharusnya mereka sudah pulang ke
rumahnya masing-masing 1 jam yang lalu. Fikri tidak
menghiraukan waktu karena ia sudah terbiasa untuk pulang telat dari jam biasanya.
“Ayo pulang, kita sudah terlambat 1 jam
pulang dari sekolah, aku takut dimarahi sama mama” kata Edo, temannya
Fikri.
“Ah, penakut! Nanti saja lahh, baru juga jam
segini. Masih siang, mama mu gaakan marah, tenang aja kan ada aku.” kata Fikri
dengan santai.
“Aku mau pulang Fik, hari
ini ibu mengajak aku pergi untuk beli sepatu baru” ucap Edo yang
akan pulang.
“Edo kata ibumu gajadi perginya, udah kita main aja disini.
Lain kali aja beli sepatunya, kan sepatu mu masih bagus” balasan fikri yang mengarang
karena tidak mengizinkan teman-temannya untuk pulang.
Akhirnya mereka terhasut untuk tidak pulang melainkan
melanjutkan bermain. Hari semakin gelap, mereka pun beranjak untuk pulang ke
rumahnya masing-masing. Sesampainya di rumah, Edo pun melihat
rumahnya yang kosong karena Ibu Ida-ibunya edo-tidak
ada, ia merasa bersalah karena tidak ikut dengan ibunya untuk pergi.
Berbeda dengan fikri, ia merasa biasa saja sesampainya di
rumah, bahkan ia pun tidak menyapa Ibu Suri dan Pa Subadi-Bapaknya-saat
memasuki rumah. Ia langsung masuk kamar untuk kembali
berbaring di kamarnya dan beristirahat dengan kamar yang berantakan. Pa Subadi
pun tidak habis pikir atas perbuatan anaknya yang sangat kurang sopan kepada
mereka.
Mendengar Ibu Ida yang memberi tau Pa Subadi
bahwa tadi pagi ia mendapatkan kabar dari sekolah bahwa anaknya tidak masuk sekolah
untuk kesekian kalinya, Ibu Ida mendapatkan
surat undangan dari sekolah dan memberikan surat tersebut ke Pa Subadi.
Akhirnya Pa Subadi pun merasa jengkel lalu memanggil Fikri
untuk bicara.
“Fikri, keluar kamar sekarang! Ada
yang mau bapa tanyain sama kamu.” kata Pa Subadi yang
merasa kesal.
“Nanti pak, aku masih capek. Baru pulang sekolah.”jawab
Fikri berbohong.
“Sekolah apa, hah?! Keluar Kamu sekarang!
Bapak mau ngomong!” marah Pa Subadi. Ibu Ida yang
merasa kecewa, menangis melihat kelakuan anaknya yang seperti itu. Padahal
keluarganya sudah susah payah menyekolahkannya. Namun, ini yang mereka dapatkan
dari Fikri.
“Iya, pak. Ini mau keluar, bawel
banget!” ucap Fikri yang masih leha-leha.
Pada saat Fikri keluar kamar, pa Subadi tidak bisa
menahan amarahnya karena kenakalan anaknya yang membuat ia naik darah kepala.
Fikri dimarahi oleh Pa Subadi habis-habisan karena
ia bolos sekolah untuk kesian kalinya.
Keesokan harinya Fikri dan
teman-temanya berangkat untuk pergi ke sekolah, lantaran mereka sudah diberi
peringatan untuk kesekian kalinya oleh orang tua dan pihak sekolah. Sesampainya
disekolah Fikri bertemu dengan Pa Rendi yang
dimana ia adalah wali kelas Fikri dan Edo. Mereka disuruh masuk ke kelas untuk
mengikuti mata pelajaran yang akan dipelajari, di kelas
Edo dan Fikri pun diberi peringatan oleh Pa Rendi agar
mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama. Karena nama mereka sudah tercatat
di BK sebagai murid yang sering bolos sekolah.
Pada saat jam istirahat, Fikri dan Edo melihat ibu mereka
datang ke sekolah. Mereka sebelumnya tidak mengetahui bahwa orang tua mereka dipanggil
oleh pihak sekolah. Fikri dan Edo pun menghampiri ibu mereka ke ruang Bk,
tetapi keduanya tidak diperkenankan untuk masuk karena bapak kepala
sekolah beserta guru-guru yang lain ingin berbicara hanya dengan
orang tua Fikri dan Edo.
Disitu Edo terlihat cemas karena ketakutan Ibu Ida
marah kepadanya atas perbuatan yang membuat ibunya di panggil kesekolah.
“Tenang saja Edo, ibumu tidak akan memarahi
kamu kok” kata Fikri yang tidak ketakutan.
“Aku taku Fik, nanti ibu marah lagi sama
aku. Kemari saja ibu marah karena aku tidak ikut dengan dia, ditambah sekarang
ibu dipanggil pihak sekolah karena kemarin kita bolos” kata Edo yang
ketakutan.
“Udah, santai aja kali. Kamu kan anak
satu-satunya gamungkin ibu kamu marah sama kamu, nanti yang bantuin ibu beresin
rumah siapa kalau ibu marah” balas Fikri dengan santai.
“Tapi tetap saja Fik, aku gamau
liat ibu nangis lagi kaya sebelum-sebelumnya. Aku ngerasa bersalah banget sama
ibu” kata Edo yang tetap cemas dan menyesal karena perbuatannya.
“Kamu ini, terlalu penakut. Udah deh, aku yakin ibu
kamu tidak akan marah” kata fikri.
Setelah itu Edo dan Fikri pun masuk kembali keruangan
kelas karena mata pelajaran selanjutnya akan dimulai. Edo masih terlihat sangat
ketakutan atas kejadian tadi, yang tiba-tiba ibunya ada di sekolah. Berbeda
dengan Fikri yang sedang asik dengan pesawat kertas yang ia
bikin. Melihat Edo yang sedang ketakutan, Fikri pun melempar pesawat kertasnya
ke arah Edo untuk menghiburnya.
Saat itu juga Edo langsung kaget dan tertawa karena
pesawat kertas yang di lempar Fikri terkena kipas angin yang berputar. Akhirnya
guru yang sedang mengajar pun memberi teguran untuk mereka berdua karena
bermain disaat mata pelajaran berlangsung.
Sekolah pun akhirnya selesai Fikri dan teman-temannya pun
bergegas pulang ke rumah masing-masing. Belum sempat sampai dirumah mereka
pun mampir ke basecamp mereka untuk
bermain, tanpa menghiraukan tugas yang diberikan oleh guru dan orang tua yang
menunggu mereka di rumah. Semua asik bermain, termasuk Fikri dan Edo, meskipun
dalam hati Edo masih ada perasaan tidak enak.
“Temen-temen, aku pulang duluan yaa, kasian ibuku di rumah sendirian”
kata Edo ynag masih cemas terhadap ibunya.
“Yaelah, dari tadi kamu masih mikirin ibu kamu. Palingan juga kamu takut
dimarahi sama Bu Ida kan, karena tadi dipanggil ke sekolah” kata Fikri tanpa ketakutan.
“Iyaa, aku pulang duluan yaa” balas Edo yang tetap pergi pulang tanpa
memperdulikan omongan Fikri.
Sesampainya di rumah Edo pun, membersihkan diri dan langsung membantu
ibunya. Edo sadar ia salah, dan Edo menyesal atas perbuatannya.
“Ibu, maafkan Edo ya ibu. Edo janji tidak akan bolos lagi bu” kata Edo.
Sebenarnya, ibu Edo sudah memaafkan Edo. Namun, Ibu Ida hanya ingin anaknya
mengakui kesalahannya.
“Iya, de. Ibu maafin, ibu gamarah kok.” Ucap ibu menenangkan Edo.
Edo dan ibunya sudah berdamai. Disisi lain, Fikri masih di tempat tongkrongannya.
Teman – temannya bermain sambil bersenandung menyanyikan lagu-lagu. Di tengah
keheningan, Rico temannya Fikri seketika memecah keheningan.
“Aku juga pulang yak” kata Rico datar. Fikri pun bingung karena biasanya
Rico adalah orang terakhir yang pulang dari tongkrongan.
“Dih, kenapa? Sakit kamu?” Tanya Fikri heran.
“Ga, gatau pengen aja. Dah lah, aku pulang duluan. Kalian juga pulang,
orang tua kalian pasti nungguin tuh.” Ucap Rico. Semua terdiam. Setelah Rico
pergi, anak-anak yang lain pun ikut pulang begitu pula dengan Fikri.
Sesampainya di rumah, suasanya rumah begitu dingin. Bu Suri dan Pa Subadi
tidak memperdulikan kehadiran Fikri. Orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya
masing – masing. Fikri pun tidak perduli dan langsung menuju ke kamar tanpa
melepas seragam dan kamar yang berantakan.
Di ruang tengah, kedua orang tua Fikri sedang menonton acara berita di
tv. Beritanya tentang bencana alam yang akan diprediksi. Fikri yang tengah
lewat, menghampiri kedua orang tuanya. Ikut menyimak apa yang berita tersebut
sampaikan. Kedua orang tua Fikri cemas, begitupun Fikri. Meski begitu, Fikri
masih tetap berusaha tenang dan bersikap biasa saja.
Keesokkan harinya, Fikri berencana untuk mengajak teman – temannya
bermain ke rumahnya. Namun, entah kenapa banyak yang tidak bisa, dengan alasan
karena mereka ingin membantu orang tua mereka. Dan akhirnya Fikri pulang dengan
perasaan kesal kepada teman – temannya.
“Nak, bisa tolong ibu sebentar?” ucap ibu. Ntah kenapa, Fikri merasa
janggal dan akhirnya memutuskan menolong ibunya. Ia membantu, membersihkan
kamarnya dan membantu membawa barang berat yang tidak diperlukan ke dalam
gudang. Ia sendiri tidak merasa malas atau kesal melainkan kebingungan.
“Terima kasih ya nak, ibu sayang Fikri. Ibu seneng kalau Fikri nurut
terus kaya gini. Fikri jadi anak baik terus ya nak.” Ucap ibu bangga dengan
perbuatan Fikri. Fikri tersentuh, hatinya yang bak dinding batu yang sulit
dihancurkan kini perlahan rapuh. Pa Subadi pulang dari tempat kerjanya, ia
melihat Fikri dan Bu Suri melakukan pekerjaan rumah bersama. Ia tersenyum,
melihat anaknya yang mulai berubah. Ia terharu dan hampir menetaskan air mata.
Ia langsung mendekati Fikri dan Bu Suri, lalu menepuk punggung anaknya. Fikri
terkejut, melihat bapaknya yang menangis. Fikri tidak tahu bahwa hanya dengan
seperti ini, orang tuanya begitu terlihat senang. Fikri seketika menyadari
bahwa hal seperti inilah yang diinginkan orang tuanya. Ya, dan dengan begini
Fikri melihat bahwa orang tuanya begitu menyayanginya.
“Nanti kita makan diluar ya, bapak baru habis gajian” ajak bapak.
“mauu pak, ibu setuju. Gimana nak?” ucap ibu antusias.
Sebenarnya, Fikri masih ada perasaan malas untuk menghabiskan waktu
bersama orang tuanya. Namun, ia melihat bahwa orang tuanya sangat ingin ia
ikut. Dengan begitu, ia menyetujui ajakan orang tuanya.
Malam hari telah tiba, ia dan keluarganya makan malam bersama di luar
rumah. Menghabiskan waktu bersama ternyata tidaklah buruk. Fikri menyadari satu
hal lagi, bahwa ternyata selama ini waktu yang ia habiskan dengan bermain dan
membolos adalah hal sia-sia. Dia menyesal, dari lubuk hatinya yang paling dalam
ia menyesal. Fikri berniat untuk membayar semuanya. Ia ingin menebus semua
kesalahannya. Semua harapannya, ia simpan terlebih dahulu, karena ia ingin
menikmati makan malam bersama keluarganya.
Setelah selesai makan malam, di perjalanan ia melihat jalan, dan
merenungi semua kebahagiaan yang terjadi hari itu. Ia bahagia, sangat bahagia.
Begitu pula dengan kedua orang tuanya. Keluarganya, kini hangat. Dan, ia
menyukai itu. Ia berharap hari itu, tidak berlalu dengan cepat. Dan, ia berharap
bahwa ia dan keluarganya bisa bahagia
selamanya.
Minggu pagi, Fikri terbangun. Ia dengan semangat membersihkan tempat
tidurnya. Ia berharap dapat menghabiskan waktu dengan kedua orang tuanya lagi.
Ibu mengetuk pintu dan membawa segelas susu. Sungguh, kali ini Fikri langsung
membukakan pintu, tanpa mengeluh. Fikri sekarang sudah menjadi anak yang baik.
Ia mengakui semua kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulanginya. Ia
menginginkan kehidupan hangatnya yang sekarang.
“Bu, Fikri izin main ya. Sudah ada janji dengan teman” izin Fikri ramah.
“Boleh tapi jangan pulang malam ya” ucap ibu khawatir.
“Tenang aja bu, Fikri pulang siang kok. Kan nanti kita mau pergi bu sama
bapak.” Ucap Fikri antusias.
“Iya, hati – hati ya nak” jawab ibu.
Setelah itu, Fikri mandi dan pergi bermain dengan teman-temannya.
Siang hari tiba, ia menepati janjinya untuk pulang siang, teman –
temannya sempat bingung dengan sikap Fikri sekarang. Namun, janji harus
ditepati. Fikri pun berjalan pulang menuju rumahnya. Namun dengan perasaan
aneh, Fikri merasa angin begitu kencang melewati tubuhnya. Udara pun menjadi
dingin, ia mengira akan turun hujan. Ia bergegas menuju rumahnya dengan
berlari.
Sebelunya pada pukul 12.30 pun sudah terasa guncangan gempa, tetapi
tidak terlalu besar. Kata warga sekitar gempang itu terjadi di daerah lain
sehingga mereka pun tidak berfikir bahwa akan ada gempa susulan. Saat sedang
berlari guncangan gempa pun terasa kembali , hal itu pun membuat fikri semakin
cemas dan khawatir dengan keadaan dirumah. Hari ini pun dirumah akan mengadakan
tahlilan adik ibu Suri yang baru 7 hari yang lalu meninggal. Kondisi di rumah
sdikit tidak kondusif karena ibu dan saudara-saudara sedang mempersiapkan
tahlilan untuk dimalam hari nya.
Pada saat pukul 14.30 di rumah, ibu tengah mengemas rumah. Saat mengemas
rumah, ibu mendapat kabar dari tetangganya bahwa hari ini air laut akan naik.
Dan mungkin akan mengakibatkan tsunami. Berita itu masih simpang siur, namun
ibu sedikit cemas. Lalu Bu Suri menghubungi Pa Subadi dan Pa Subadi pun
langsung bergegas pulang. Bu Suri mengemas barang yang mungkin akan dibutuhkan.
Di sisi lain, Fikri yang tengah terburu – buru, terjatuh akibat tersandung. Ia
kesakitan, lalu berdiri sebentar sambil membersihkan pakaiannya. Ia mendengar
suara air, dan suara gemuruh dan teriakan warga. Ia melihat kebelakang,
menatapi sebentar. Memperhatikan apa yang terjadi, beberapa saat kemudian, ia
melihat warga lari membawa barang – barang
dengan cepat ke arahnya, motor – motor dan mobil – mobil berdesakkan dan
melaju kencang bak orang sedang balapan. Ia pun ikut berlari menuju rumahnya.
Ia mendengar orang berteriak, “Tsunami!! Tsunami!!”.
Edo yang mengikuti Fikri pun merasa cemas karena ia belum bertemu dengan
ibu Ida, saat Edo pulang ke rumah terlihat ibu Ida sudah tidak ada di dalam rumah,
hal ini pun membuat Edo menangis sambil berteriak untuk menemukan ibu Ida. Saat
itu kondisi ibu Ida sedang mencari Edo yang belum juga kembali pulang. Karena situasi
yang semakin tidak karuan akhirnya Edo pun tetap mengikuti Fikri yang akan
pulang untuk bertemu dengan ibu Suri dan Pak Subadi. Ketika gelombang air pun
datang Fikri dan Edo menaiki pohon kelapa yang ada di dekatnya, sementara bu
Suri dan pak Subadi masih berjalan untuk mencari tempat yang aman. Di tengah
perjalanan ibu Suri dan pak Subadi melihat Fikri dan Edo yang sedang berada di
atas pohon kelapa, hal itu pun membuat pak Subadi khawatir karena takut pohon
kelapa tersebut ikut hanyut.
“bapak!!! Tolongin Fikri dan Edo pak” ucap Fikri yang sedang ketakutan.
“tunggu sebentar nak, kalian pegangan dulu yang erat” balas pa Subadi
yang ingin menlong tapi gelombang mulai naik.
Karena badan Edo yang berisi membuat Edo tak kuasa menahan pegangan
tangan dari Fikri. Disitu Fikri sangat khawatir karena perlahan pegangan
tangannya pun sedikit terlepas dengan Edo. Saking tak kuasanya Edo, akhirnya
Edo Pun terjatuh dan trbawa gelombang air. Melihat itu, pak subadi pun merasa
takut anaknya terjatuh juga. Akhirnya pak subadi pun bertekad untuk menghampiri
Fikri dan membawa Fikri untuk pergi bersamanya mencari tempat yang lebih aman.
“Edoo!!!” kata Fikri yang kaget karena Edo tak kuasa menahan pegangannya
“ sudah nak, kamu pegangan saja yang kuat. Bapak akan kesitu” ucap pa
Subadi yang khawatir.
Setelah pak Subadi membawa Fikri turun dan mencari tempat yang aman,
Fikri pun merasa bersalah atas jatuhnya Edo ynag tak kuasa menahan berat
badannya.
“pak, bagaimana kondisi Edo sekarang? Fikri khawatir Edo kenapa – kenapa”
kata Fikri yang khawatir dengan Edo.
“tenang saja nak! Kita harus yakin Edo selamat. Dia kan anak yang kuat
sama kaya kamu, kita doakan saja Edo baik – baik saja yaa” saut pak Subadi yang
berusaha menenangkan Fikri
“lalu bagaimana jika bu Ida menanyakan keberadaan Edo?” balas fikri yang
masih ketakutan.
“kita jelaskan dengan baik – baik nak, kita pasti ketemu lagi sama Edo
dan bu Ida” kata bu Suri yang berusaha menenangkan Fikri.
Saat sedang mencari tempat yang aman, Fikri dan keluarga menghampiri
lapangan yang dimana mereka berharap di sana aman sebagai tempat perlindungan. Tak
disangka teryata lapangan pun sudah di penuhi dengan gelombangan air yang
deras. Melihat itu, pak Subadi pun mengajak bu Suri dan Fikri untuk pergi ke daerah yang lebih tinggi untuk
berlindung. Setelah melewati berbagai tempat yang kurang aman untuk di tempati
sementara, akhirnya mereka pun sampai ke daerah yang lebih tinggi. Disana terdapat posko pengungsian
untuk para korban bencana Tsunami palu tersebut, akhirnya pa Subadi dan
keluarga istirahat karena kelelahan atas peristiwa tadi.
Pada pukul 08.15 setelah istirahat, Fikri pun masih merasa sangat
bersalah karena tidak bisa menolong Edo teman yang paling setia dengannya. Banyak
pikiran buruk yang Fikri pikirkan terhadap keadaan Edo sekarang, karena hingga
sekarang Fikri pun belum menemukan Edo di posko pengungsian.
“Edo! Dimana kamu sekarang? Maafkan aku, karena tidak bisa menahan
genggaman tangan kamu. Aku harap kamu tidak ada yang terluka dan masih bisa
bertahan, supaya kita bisa bermain kembali bersama- sama. Terimakasih Do udah
mau jadi teman terbaik untuk aku” gumam Fikri dalam hatinya.
Tak lama kemudian terdengar suara ibu – ibu yang memanggil nama Fikri
“Fikri!! Fikri!!” teriakan ibu Ida yang yang jelas di dengar oleh Fikri
“bu Ida?! Ibu dari mana saja bu? Edo nyari – nyari ibu dari kemarin”
kata Fikri yang terkejut atas kedatangan bu Ida
“Fikri, sekarang Edo ada dimana? Dia ada disini kan sekarang?” kata bu
Ida yang terlihat sangat panik.
Melihat kondisi itu pun Fikri sangat cemas, dan bu Suri pun datang untuk
membantu Fikri menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
“Edo gaada disini bu” kata Fikri sambil terbata-bata.
“lohhh!! Kok gaada disini? Kan kemarin Edo main sama kamu Fik di
lapangan” balas bu Ida sambil menangis”
“Edo sekarang dimana Fik!!”
“iya bu, kemarin Edo sempat bareng sama Fikri. Tapi fikri….” Edo yang
tak kuasa menahan air matanya untuk menjelaskan semuanya.
“tapi kenapa Fik?! Bu ada apa sebenarnya ini? Kemana anak saya?” kata bu
Ida yang bertanya kepada bu Suri.
“jadi sebenarnya begini bu. Kemarin Edo sempat bareng sama Fikri untuk
berlindung di atas pohon kelapa. Tapi karena Edo tak kuasa menahan badannya,
akhirnya Edo pun terlepas dari genggaman Fikri dan terjatuh terbawa gelombang
aiar kemarin Bu” kata bu Suri yang tak kuasa menahan air matanya.
Mendengar itu semua bu Ida pun terjatuh pingsan karena kaget atas cerita
yang dilontarkan oleh bu Suri. Karena itu akhirnya bu Ida pun di pindahkan ke
posko pengungsian untuk istirahat. Setelah itu edo pun tak kuasa menahan
tangisan nya terhadap temannya yang hilang, kemudia pak Rendi pun datang kepada
Fikri lalu menghibrnya dengan membawa Fikri ke dapur pengungsian untuk makan.
Disana Fikri di temani oleh pak Rendi yang dimana Pak Rendi pun
merupakan Korban dari bencana tsunami tersebut. Pak Rendi meminta Fikri untuk
menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Edo. Setelah mendengar cerita
dari Fikri, pak Rendi pun memberi banyak nasihat kepada Fikri tentang
pertemanan, keluarga, dan kehidupan.
Banyak cerita yang diberikan pak Rendi kepada Fikri, tak lama kemudia bu
Ida pun datang ke dapur pengungsian. Karena emosi yang tak terbendung, akhirnya
bu Ida meluapkan rasa kekecewaannya kepada Fikri.
“Fikrii!!! Ini semua gara-gara kamu, andai edo ga temenan sama kamu ibu
gaakan kehilangan dia sekarang” kata bu Ida yang tidak bisa menahan amarahnya
Mendengar itu pun bu Suri datang
“berhenti bu Ida menyalahkan anak saya, ini bukan salahnya Fikri. Ini musibah
yang menimpa kita semua, fikri sudah berusaha untuk menahan Edo. Tapi Edo tidak
bisa menahan itu terlalu lama” balas bu Suri yang membela Fikri.
Mendengar keributan itu fikri semakin tak kuasa menahan aiar matanya. Ia
pun menangis dan meminta maaf kepada bu Ida karena kejadian yang tak terduga
tersebut.
“sudah bu!! Ini memang sudah jalannya begini, Fikri juga mengakui
keslahan Fikri. Seharusnya Fikri masih bisa menahan genggaman itu” kata fikri
sambil menangis.
Setelah itu pukul 15.40 tanggal 25 desember terdengar pengumuman dari
kantor pemberitahuan bahwa Edo sudah ditemukan. Fikri dan bu Ida langsung
menangis mendengar pengumuman dari kantor pemberitahuan tersebut. Mereka pun
langsung berlari menuju kantor pemberitahuan untuk melihat kondisi Edo. Sesampainya
di sana, Fikri melihat ada seorang anak lelaki
yang berisi dengan keadaan yang sangat letih. Iya, itu adalah Edo yang
dimana ia di temukan dengan keadaan yang sangat tidak enak dilihat. Karena benturan
batu yang terkena kepalanya dan goresan-goresan dari barang-barang warga
sekitar.
Disitu bu Ida menangis dan langsung memeluk anaknya yang sudah
ditemukan, disisi lain Fikri pun malah meninggalkan Edo dan bertemu dengan pak
Subardi dan bu suri. Fikri merasa dirinya sudah tidak pantas menjadi teman Edo
karena iya telah membuat Edo terluka. Melihat Fikri yang sedih, pak Subardi dan
bu Suri pun berusah memberi nasihat kepada Fikri atas kejadian yang menimpa
keluarga nya dan warga sekitar.
Keesokan harinya, Fikri pun memberanikan diri untuk menemui Edo di kamar
pengungsiannya. Belum juga masuk ke kamar Edo, Fikri pun tak kuasa menahan air
matanya yang berlinang. Ia menangis dan berlari untuk memeluk Edo yang sedang
berbaring di kasurnya.
“Edo!!! Maafin aku, karena aku kamu jadi begini” kata fikri sambil
menangis
“apaan sih Fikri, aku tidak apa-apa. Ini semua bukan salah kamu, aku
seharusnya berterimakasih ke kamu karena kamu kemarin telah membantu aku untuk
brlindung dan menaiki pohon kelapa tersebut. Terimakasih juga udah menggenggam
erat tangan aku, walaupun aku sudah tidak bisa menahan genggaman kamu” balasan
Edo sambil memeluk Fikri
Mereka pun saling memaafkan dan berpelukan. Disisi lain pun bu Ida dan
bu Suri saling memaafkan atas keributan yang terjadi selama ini. Akhirnya Fikri
pun mengambil banyak pelajaran dari bencana tsunami ini, ia pun merasa
bersyukur karena ia dan keluarga beserta teman yang ia sayangi masih diberi
kesempatan untuk bertemu dan melanjutkan hidup bersama.
~Selesaii~
Nama : Rika Setiani Nf
BalasHapusKelas : Xii Mipa 2
Ceritanya bagus dan keren
Latifa Shalma (XII MIPA 2)
BalasHapusCeritanya kerasa singkat padahal panjang, ya! Mungkin karena ceritanya seru, makanya bacanya juga jadi cepet dan enjoy banget. Ga kerasa tiba tiba ada di akhir cerita aja. Good job, Sabil!👌
masya allah keren banget sih! terbawa suasana tokoh juga..
BalasHapusterharu, sedih, kesel bercampur aduk:"
goodjob, bil<3
Dwi Afifah (12Mipa2)
BalasHapusWah, ceritannya sangat menarik sekalii, hebatt
Risanda Aulia Puteri (28) XII MIPA 2
BalasHapusmantap sabil ceritanya baguss, feelnya dapet, walaupun masih ada ketidaktepatan dalam penulisan dan penggunaan kata, ceritanya mudah dimengerti 👍🏻
Devini Aulia N S (05) XII MIPA 5
BalasHapusMantap bil, emosinya kerasa banget. Mantap lah
Ceritanya baguss, bahasanya mudah dimengerti dan strukturnya sudah sesuai. Sukses selalu bil
BalasHapusCeritanya menyetuh hati membuat para pembaca terhanyut dalam alur cerita. Mantapp bill🙌
BalasHapusSangat menarik untuk dibaca bil
BalasHapusCeritanya keren banget ! Nagih banget jadi ingin baca terus 👍🏻 SEMANGAT SABIL! Tetap kreatif dan selalu berkarya!
BalasHapus