GELOMBANG

 Oktober 17, 2021


penulis                        : Salsa Bila Ratna Anwari

Kelas                           : XII IPA 2

Mata Pelajaran          : Bahasa Indonesia

 

 

Di sebuah daerah yang amat subur, hiduplah seorang anak bernama Fikri, ia sangat dikenal di desanya karena kenakalannya. Waktu itu, 20 September 2018. Fikri sedang berbaring di kamarnya karena kelelahan akibat semalaman bermain PlayStation dengan teman-temannya. Fikri yang seharian mengurung diri di kamar karena kelelahan membuat ibu Suri menjadi kesal karena anaknya tak kunjung keluar kamar untuk makan dan sekolah.

“Fikri bangun! Sudah jam 07.30 kamu terlambat sekolah. Bagaimana ini kalau pa guru datang lagi kerumah karena kamu ga sekolah?” ucap ibu dari balik kamar Fikri

“Iya bu sebentar, tidak akan terlambat kok bu sekolahnya. Sekarang Fikri kebagian sekolah siang” jawab Fikri.

“Cepat Fikri sudah siang kamu harus mandi dan sarapan dulu” suruh ibu.

Sebenarnya Fikri pun sudah terkenal di sekolahnya karena ia merupakan anak yang sering didatangi oleh wali kelas karena tugas-tugas yang masih kosong dan kehadiran yang bolong-bolong. Fikri pun akhirnya keluar kamar untuk mandi dan makan, setelah itu ia mengenakan seragamnya untuk pergi sekolah.

Tapi ternyata Fikri tidak pergi kesekolah melainkan bermain bersama teman-temannya yang sama nakalnya dengan Fikri. Mereka bolos sekolah untuk bermain tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Padahal orang tua mereka berfikir bahwa anak-anaknya berangkat kesekolah.

Di lapang mereka bermain dengan asik, tanpa disadari waktu pun menunjukkan pukul 15.00 yang dimana seharusnya mereka sudah pulang ke rumahnya masing-masing 1 jam yang lalu. Fikri tidak menghiraukan waktu karena ia sudah terbiasa untuk pulang telat dari jam biasanya.

Ayo pulang, kita sudah terlambat 1 jam pulang dari sekolah, aku takut dimarahi sama mama” kata Edo, temannya Fikri.

Ah, penakut! Nanti saja lahh, baru juga jam segini. Masih siang, mama mu gaakan marah, tenang aja kan ada aku.” kata Fikri dengan santai.

Aku mau pulang Fik, hari ini ibu mengajak aku pergi untuk beli sepatu baru” ucap Edo yang akan pulang.

“Edo kata ibumu gajadi perginya, udah kita main aja disini. Lain kali aja beli sepatunya, kan sepatu mu masih bagus” balasan fikri yang mengarang karena tidak mengizinkan teman-temannya untuk pulang.

Akhirnya mereka terhasut untuk tidak pulang melainkan melanjutkan bermain. Hari semakin gelap, mereka pun beranjak untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Sesampainya di rumah, Edo pun melihat rumahnya yang kosong karena Ibu Ida-ibunya edo-tidak ada, ia merasa bersalah karena tidak ikut dengan ibunya untuk pergi.

Berbeda dengan fikri, ia merasa biasa saja sesampainya di rumah, bahkan ia pun tidak menyapa Ibu Suri dan Pa Subadi-Bapaknya-saat memasuki rumah. Ia langsung masuk kamar untuk kembali berbaring di kamarnya dan beristirahat dengan kamar yang berantakan. Pa Subadi pun tidak habis pikir atas perbuatan anaknya yang sangat kurang sopan kepada mereka.

Mendengar Ibu Ida yang memberi tau Pa Subadi bahwa tadi pagi ia mendapatkan kabar dari sekolah bahwa anaknya tidak masuk sekolah untuk kesekian kalinya, Ibu Ida mendapatkan surat undangan dari sekolah dan memberikan surat tersebut ke Pa Subadi. Akhirnya Pa Subadi pun merasa jengkel lalu memanggil Fikri untuk bicara.

Fikri, keluar kamar sekarang! Ada yang mau bapa tanyain sama kamu.” kata Pa Subadi yang merasa kesal.

Nanti pak, aku masih capek. Baru pulang sekolah.”jawab Fikri berbohong.

Sekolah apa, hah?! Keluar Kamu sekarang! Bapak mau ngomong! marah Pa Subadi. Ibu Ida yang merasa kecewa, menangis melihat kelakuan anaknya yang seperti itu. Padahal keluarganya sudah susah payah menyekolahkannya. Namun, ini yang mereka dapatkan dari Fikri.

Iya, pak. Ini mau keluar, bawel banget! ucap Fikri yang masih leha-leha.

Pada saat Fikri keluar kamar, pa Subadi tidak bisa menahan amarahnya karena kenakalan anaknya yang membuat ia naik darah kepala. Fikri dimarahi oleh Pa Subadi habis-habisan karena ia bolos sekolah untuk kesian kalinya.

Keesokan harinya Fikri dan teman-temanya berangkat untuk pergi ke sekolah, lantaran mereka sudah diberi peringatan untuk kesekian kalinya oleh orang tua dan pihak sekolah. Sesampainya disekolah Fikri bertemu dengan Pa Rendi yang dimana ia adalah wali kelas Fikri dan Edo. Mereka disuruh masuk ke kelas untuk mengikuti mata pelajaran yang akan dipelajari, di kelas Edo dan Fikri pun diberi peringatan oleh Pa Rendi agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama. Karena nama mereka sudah tercatat di BK sebagai murid yang sering bolos sekolah.

Pada saat jam istirahat, Fikri dan Edo melihat ibu mereka datang ke sekolah. Mereka sebelumnya tidak mengetahui bahwa orang tua mereka dipanggil oleh pihak sekolah. Fikri dan Edo pun menghampiri ibu mereka ke ruang Bk, tetapi keduanya tidak diperkenankan untuk masuk karena bapak kepala sekolah beserta guru-guru yang lain ingin berbicara hanya dengan orang tua Fikri dan Edo.

Disitu Edo terlihat cemas karena ketakutan Ibu Ida marah kepadanya atas perbuatan yang membuat ibunya di panggil kesekolah.

Tenang saja Edo, ibumu tidak akan memarahi kamu kok” kata Fikri yang tidak ketakutan.

Aku taku Fik, nanti ibu marah lagi sama aku. Kemari saja ibu marah karena aku tidak ikut dengan dia, ditambah sekarang ibu dipanggil pihak sekolah karena kemarin kita bolos” kata Edo yang ketakutan.

Udah, santai aja kali. Kamu kan anak satu-satunya gamungkin ibu kamu marah sama kamu, nanti yang bantuin ibu beresin rumah siapa kalau ibu marah” balas Fikri dengan santai.

Tapi tetap saja Fik, aku gamau liat ibu nangis lagi kaya sebelum-sebelumnya. Aku ngerasa bersalah banget sama ibu” kata Edo yang tetap cemas dan menyesal karena perbuatannya.

Kamu ini, terlalu penakut. Udah deh, aku yakin ibu kamu tidak akan marah” kata fikri.

Setelah itu Edo dan Fikri pun masuk kembali keruangan kelas karena mata pelajaran selanjutnya akan dimulai. Edo masih terlihat sangat ketakutan atas kejadian tadi, yang tiba-tiba ibunya ada di sekolah. Berbeda dengan Fikri yang sedang asik dengan pesawat kertas yang ia bikin. Melihat Edo yang sedang ketakutan, Fikri pun melempar pesawat kertasnya ke arah Edo untuk menghiburnya.

Saat itu juga Edo langsung kaget dan tertawa karena pesawat kertas yang di lempar Fikri terkena kipas angin yang berputar. Akhirnya guru yang sedang mengajar pun memberi teguran untuk mereka berdua karena bermain disaat mata pelajaran berlangsung.

Sekolah pun akhirnya selesai Fikri dan teman-temannya pun bergegas pulang ke rumah masing-masing. Belum sempat sampai dirumah mereka pun mampir ke basecamp mereka untuk bermain, tanpa menghiraukan tugas yang diberikan oleh guru dan orang tua yang menunggu mereka di rumah. Semua asik bermain, termasuk Fikri dan Edo, meskipun dalam hati Edo masih ada perasaan tidak enak.

“Temen-temen, aku pulang duluan yaa, kasian ibuku di rumah sendirian” kata Edo ynag masih cemas terhadap ibunya.

“Yaelah, dari tadi kamu masih mikirin ibu kamu. Palingan juga kamu takut dimarahi sama Bu Ida kan, karena tadi dipanggil ke sekolah” kata Fikri tanpa ketakutan.

“Iyaa, aku pulang duluan yaa” balas Edo yang tetap pergi pulang tanpa memperdulikan omongan Fikri.

Sesampainya di rumah Edo pun, membersihkan diri dan langsung membantu ibunya. Edo sadar ia salah, dan Edo menyesal atas perbuatannya.

“Ibu, maafkan Edo ya ibu. Edo janji tidak akan bolos lagi bu” kata Edo. Sebenarnya, ibu Edo sudah memaafkan Edo. Namun, Ibu Ida hanya ingin anaknya mengakui kesalahannya.

“Iya, de. Ibu maafin, ibu gamarah kok.” Ucap ibu menenangkan Edo.

Edo dan ibunya sudah berdamai. Disisi lain, Fikri masih di tempat tongkrongannya. Teman – temannya bermain sambil bersenandung menyanyikan lagu-lagu. Di tengah keheningan, Rico temannya Fikri seketika memecah keheningan.

“Aku juga pulang yak” kata Rico datar. Fikri pun bingung karena biasanya Rico adalah orang terakhir yang pulang dari tongkrongan.

“Dih, kenapa? Sakit kamu?” Tanya Fikri heran.

“Ga, gatau pengen aja. Dah lah, aku pulang duluan. Kalian juga pulang, orang tua kalian pasti nungguin tuh.” Ucap Rico. Semua terdiam. Setelah Rico pergi, anak-anak yang lain pun ikut pulang begitu pula dengan Fikri.

Sesampainya di rumah, suasanya rumah begitu dingin. Bu Suri dan Pa Subadi tidak memperdulikan kehadiran Fikri. Orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya masing – masing. Fikri pun tidak perduli dan langsung menuju ke kamar tanpa melepas seragam dan kamar yang berantakan.

Di ruang tengah, kedua orang tua Fikri sedang menonton acara berita di tv. Beritanya tentang bencana alam yang akan diprediksi. Fikri yang tengah lewat, menghampiri kedua orang tuanya. Ikut menyimak apa yang berita tersebut sampaikan. Kedua orang tua Fikri cemas, begitupun Fikri. Meski begitu, Fikri masih tetap berusaha tenang dan bersikap biasa saja.

Keesokkan harinya, Fikri berencana untuk mengajak teman – temannya bermain ke rumahnya. Namun, entah kenapa banyak yang tidak bisa, dengan alasan karena mereka ingin membantu orang tua mereka. Dan akhirnya Fikri pulang dengan perasaan kesal kepada teman – temannya.

“Nak, bisa tolong ibu sebentar?” ucap ibu. Ntah kenapa, Fikri merasa janggal dan akhirnya memutuskan menolong ibunya. Ia membantu, membersihkan kamarnya dan membantu membawa barang berat yang tidak diperlukan ke dalam gudang. Ia sendiri tidak merasa malas atau kesal melainkan kebingungan.

“Terima kasih ya nak, ibu sayang Fikri. Ibu seneng kalau Fikri nurut terus kaya gini. Fikri jadi anak baik terus ya nak.” Ucap ibu bangga dengan perbuatan Fikri. Fikri tersentuh, hatinya yang bak dinding batu yang sulit dihancurkan kini perlahan rapuh. Pa Subadi pulang dari tempat kerjanya, ia melihat Fikri dan Bu Suri melakukan pekerjaan rumah bersama. Ia tersenyum, melihat anaknya yang mulai berubah. Ia terharu dan hampir menetaskan air mata. Ia langsung mendekati Fikri dan Bu Suri, lalu menepuk punggung anaknya. Fikri terkejut, melihat bapaknya yang menangis. Fikri tidak tahu bahwa hanya dengan seperti ini, orang tuanya begitu terlihat senang. Fikri seketika menyadari bahwa hal seperti inilah yang diinginkan orang tuanya. Ya, dan dengan begini Fikri melihat bahwa orang tuanya begitu menyayanginya.

“Nanti kita makan diluar ya, bapak baru habis gajian” ajak bapak.

“mauu pak, ibu setuju. Gimana nak?” ucap ibu antusias.

Sebenarnya, Fikri masih ada perasaan malas untuk menghabiskan waktu bersama orang tuanya. Namun, ia melihat bahwa orang tuanya sangat ingin ia ikut. Dengan begitu, ia menyetujui ajakan orang tuanya.

Malam hari telah tiba, ia dan keluarganya makan malam bersama di luar rumah. Menghabiskan waktu bersama ternyata tidaklah buruk. Fikri menyadari satu hal lagi, bahwa ternyata selama ini waktu yang ia habiskan dengan bermain dan membolos adalah hal sia-sia. Dia menyesal, dari lubuk hatinya yang paling dalam ia menyesal. Fikri berniat untuk membayar semuanya. Ia ingin menebus semua kesalahannya. Semua harapannya, ia simpan terlebih dahulu, karena ia ingin menikmati makan malam bersama keluarganya.

Setelah selesai makan malam, di perjalanan ia melihat jalan, dan merenungi semua kebahagiaan yang terjadi hari itu. Ia bahagia, sangat bahagia. Begitu pula dengan kedua orang tuanya. Keluarganya, kini hangat. Dan, ia menyukai itu. Ia berharap hari itu, tidak berlalu dengan cepat. Dan, ia berharap bahwa ia dan keluarganya bisa bahagia selamanya.

Minggu pagi, Fikri terbangun. Ia dengan semangat membersihkan tempat tidurnya. Ia berharap dapat menghabiskan waktu dengan kedua orang tuanya lagi. Ibu mengetuk pintu dan membawa segelas susu. Sungguh, kali ini Fikri langsung membukakan pintu, tanpa mengeluh. Fikri sekarang sudah menjadi anak yang baik. Ia mengakui semua kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulanginya. Ia menginginkan kehidupan hangatnya yang sekarang.

“Bu, Fikri izin main ya. Sudah ada janji dengan teman” izin Fikri ramah.

“Boleh tapi jangan pulang malam ya” ucap ibu khawatir.

“Tenang aja bu, Fikri pulang siang kok. Kan nanti kita mau pergi bu sama bapak.” Ucap Fikri antusias.

“Iya, hati – hati ya nak” jawab ibu.

Setelah itu, Fikri mandi dan pergi bermain dengan teman-temannya.

Siang hari tiba, ia menepati janjinya untuk pulang siang, teman – temannya sempat bingung dengan sikap Fikri sekarang. Namun, janji harus ditepati. Fikri pun berjalan pulang menuju rumahnya. Namun dengan perasaan aneh, Fikri merasa angin begitu kencang melewati tubuhnya. Udara pun menjadi dingin, ia mengira akan turun hujan. Ia bergegas menuju rumahnya dengan berlari.

Sebelunya pada pukul 12.30 pun sudah terasa guncangan gempa, tetapi tidak terlalu besar. Kata warga sekitar gempang itu terjadi di daerah lain sehingga mereka pun tidak berfikir bahwa akan ada gempa susulan. Saat sedang berlari guncangan gempa pun terasa kembali , hal itu pun membuat fikri semakin cemas dan khawatir dengan keadaan dirumah. Hari ini pun dirumah akan mengadakan tahlilan adik ibu Suri yang baru 7 hari yang lalu meninggal. Kondisi di rumah sdikit tidak kondusif karena ibu dan saudara-saudara sedang mempersiapkan tahlilan untuk dimalam hari nya.

Pada saat pukul 14.30 di rumah, ibu tengah mengemas rumah. Saat mengemas rumah, ibu mendapat kabar dari tetangganya bahwa hari ini air laut akan naik. Dan mungkin akan mengakibatkan tsunami. Berita itu masih simpang siur, namun ibu sedikit cemas. Lalu Bu Suri menghubungi Pa Subadi dan Pa Subadi pun langsung bergegas pulang. Bu Suri mengemas barang yang mungkin akan dibutuhkan. Di sisi lain, Fikri yang tengah terburu – buru, terjatuh akibat tersandung. Ia kesakitan, lalu berdiri sebentar sambil membersihkan pakaiannya. Ia mendengar suara air, dan suara gemuruh dan teriakan warga. Ia melihat kebelakang, menatapi sebentar. Memperhatikan apa yang terjadi, beberapa saat kemudian, ia melihat warga lari membawa barang – barang  dengan cepat ke arahnya, motor – motor dan mobil – mobil berdesakkan dan melaju kencang bak orang sedang balapan. Ia pun ikut berlari menuju rumahnya. Ia mendengar orang berteriak, “Tsunami!! Tsunami!!”.

Edo yang mengikuti Fikri pun merasa cemas karena ia belum bertemu dengan ibu Ida, saat Edo pulang ke rumah terlihat ibu Ida sudah tidak ada di dalam rumah, hal ini pun membuat Edo menangis sambil berteriak untuk menemukan ibu Ida. Saat itu kondisi ibu Ida sedang mencari Edo yang belum juga kembali pulang. Karena situasi yang semakin tidak karuan akhirnya Edo pun tetap mengikuti Fikri yang akan pulang untuk bertemu dengan ibu Suri dan Pak Subadi. Ketika gelombang air pun datang Fikri dan Edo menaiki pohon kelapa yang ada di dekatnya, sementara bu Suri dan pak Subadi masih berjalan untuk mencari tempat yang aman. Di tengah perjalanan ibu Suri dan pak Subadi melihat Fikri dan Edo yang sedang berada di atas pohon kelapa, hal itu pun membuat pak Subadi khawatir karena takut pohon kelapa tersebut ikut hanyut.

“bapak!!! Tolongin Fikri dan Edo pak” ucap Fikri yang sedang ketakutan.

“tunggu sebentar nak, kalian pegangan dulu yang erat” balas pa Subadi yang ingin menlong tapi gelombang mulai naik.

Karena badan Edo yang berisi membuat Edo tak kuasa menahan pegangan tangan dari Fikri. Disitu Fikri sangat khawatir karena perlahan pegangan tangannya pun sedikit terlepas dengan Edo. Saking tak kuasanya Edo, akhirnya Edo Pun terjatuh dan trbawa gelombang air. Melihat itu, pak subadi pun merasa takut anaknya terjatuh juga. Akhirnya pak subadi pun bertekad untuk menghampiri Fikri dan membawa Fikri untuk pergi bersamanya mencari tempat yang lebih aman.

“Edoo!!!” kata Fikri yang kaget karena Edo tak kuasa menahan pegangannya

“ sudah nak, kamu pegangan saja yang kuat. Bapak akan kesitu” ucap pa Subadi yang khawatir.

Setelah pak Subadi membawa Fikri turun dan mencari tempat yang aman, Fikri pun merasa bersalah atas jatuhnya Edo ynag tak kuasa menahan berat badannya.

“pak, bagaimana kondisi Edo sekarang? Fikri khawatir Edo kenapa – kenapa” kata Fikri yang khawatir dengan Edo.

“tenang saja nak! Kita harus yakin Edo selamat. Dia kan anak yang kuat sama kaya kamu, kita doakan saja Edo baik – baik saja yaa” saut pak Subadi yang berusaha menenangkan Fikri

“lalu bagaimana jika bu Ida menanyakan keberadaan Edo?” balas fikri yang masih ketakutan.

“kita jelaskan dengan baik – baik nak, kita pasti ketemu lagi sama Edo dan bu Ida” kata bu Suri yang berusaha menenangkan Fikri.

Saat sedang mencari tempat yang aman, Fikri dan keluarga menghampiri lapangan yang dimana mereka berharap di sana aman sebagai tempat perlindungan. Tak disangka teryata lapangan pun sudah di penuhi dengan gelombangan air yang deras. Melihat itu, pak Subadi pun mengajak bu Suri dan Fikri  untuk pergi ke daerah yang lebih tinggi untuk berlindung. Setelah melewati berbagai tempat yang kurang aman untuk di tempati sementara, akhirnya mereka pun sampai ke daerah yang lebih  tinggi. Disana terdapat posko pengungsian untuk para korban bencana Tsunami palu tersebut, akhirnya pa Subadi dan keluarga istirahat karena kelelahan atas peristiwa tadi.

Pada pukul 08.15 setelah istirahat, Fikri pun masih merasa sangat bersalah karena tidak bisa menolong Edo teman yang paling setia dengannya. Banyak pikiran buruk yang Fikri pikirkan terhadap keadaan Edo sekarang, karena hingga sekarang Fikri pun belum menemukan Edo di posko pengungsian.

“Edo! Dimana kamu sekarang? Maafkan aku, karena tidak bisa menahan genggaman tangan kamu. Aku harap kamu tidak ada yang terluka dan masih bisa bertahan, supaya kita bisa bermain kembali bersama- sama. Terimakasih Do udah mau jadi teman terbaik untuk aku” gumam Fikri dalam hatinya.

Tak lama kemudian terdengar suara ibu – ibu yang memanggil nama Fikri

“Fikri!! Fikri!!” teriakan ibu Ida yang yang jelas di dengar oleh Fikri

“bu Ida?! Ibu dari mana saja bu? Edo nyari – nyari ibu dari kemarin” kata Fikri yang terkejut atas kedatangan bu Ida

“Fikri, sekarang Edo ada dimana? Dia ada disini kan sekarang?” kata bu Ida yang terlihat sangat panik.

Melihat kondisi itu pun Fikri sangat cemas, dan bu Suri pun datang untuk membantu Fikri menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.

“Edo gaada disini bu” kata Fikri sambil terbata-bata.

“lohhh!! Kok gaada disini? Kan kemarin Edo main sama kamu Fik di lapangan” balas bu Ida sambil menangis”

“Edo sekarang dimana Fik!!”

“iya bu, kemarin Edo sempat bareng sama Fikri. Tapi fikri….” Edo yang tak kuasa menahan air matanya untuk menjelaskan semuanya.

“tapi kenapa Fik?! Bu ada apa sebenarnya ini? Kemana anak saya?” kata bu Ida yang bertanya kepada bu Suri.

“jadi sebenarnya begini bu. Kemarin Edo sempat bareng sama Fikri untuk berlindung di atas pohon kelapa. Tapi karena Edo tak kuasa menahan badannya, akhirnya Edo pun terlepas dari genggaman Fikri dan terjatuh terbawa gelombang aiar kemarin Bu” kata bu Suri yang tak kuasa menahan air matanya.

Mendengar itu semua bu Ida pun terjatuh pingsan karena kaget atas cerita yang dilontarkan oleh bu Suri. Karena itu akhirnya bu Ida pun di pindahkan ke posko pengungsian untuk istirahat. Setelah itu edo pun tak kuasa menahan tangisan nya terhadap temannya yang hilang, kemudia pak Rendi pun datang kepada Fikri lalu menghibrnya dengan membawa Fikri ke dapur pengungsian untuk makan.

Disana Fikri di temani oleh pak Rendi yang dimana Pak Rendi pun merupakan Korban dari bencana tsunami tersebut. Pak Rendi meminta Fikri untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Edo. Setelah mendengar cerita dari Fikri, pak Rendi pun memberi banyak nasihat kepada Fikri tentang pertemanan, keluarga, dan kehidupan.

Banyak cerita yang diberikan pak Rendi kepada Fikri, tak lama kemudia bu Ida pun datang ke dapur pengungsian. Karena emosi yang tak terbendung, akhirnya bu Ida meluapkan rasa kekecewaannya kepada Fikri.

“Fikrii!!! Ini semua gara-gara kamu, andai edo ga temenan sama kamu ibu gaakan kehilangan dia sekarang” kata bu Ida yang tidak bisa menahan amarahnya

Mendengar itu pun bu Suri datang

“berhenti bu Ida menyalahkan anak saya, ini bukan salahnya Fikri. Ini musibah yang menimpa kita semua, fikri sudah berusaha untuk menahan Edo. Tapi Edo tidak bisa menahan itu terlalu lama” balas bu Suri yang membela Fikri.

Mendengar keributan itu fikri semakin tak kuasa menahan aiar matanya. Ia pun menangis dan meminta maaf kepada bu Ida karena kejadian yang tak terduga tersebut.

“sudah bu!! Ini memang sudah jalannya begini, Fikri juga mengakui keslahan Fikri. Seharusnya Fikri masih bisa menahan genggaman itu” kata fikri sambil menangis.

Setelah itu pukul 15.40 tanggal 25 desember terdengar pengumuman dari kantor pemberitahuan bahwa Edo sudah ditemukan. Fikri dan bu Ida langsung menangis mendengar pengumuman dari kantor pemberitahuan tersebut. Mereka pun langsung berlari menuju kantor pemberitahuan untuk melihat kondisi Edo. Sesampainya di sana, Fikri melihat ada seorang anak lelaki  yang berisi dengan keadaan yang sangat letih. Iya, itu adalah Edo yang dimana ia di temukan dengan keadaan yang sangat tidak enak dilihat. Karena benturan batu yang terkena kepalanya dan goresan-goresan dari barang-barang warga sekitar.

Disitu bu Ida menangis dan langsung memeluk anaknya yang sudah ditemukan, disisi lain Fikri pun malah meninggalkan Edo dan bertemu dengan pak Subardi dan bu suri. Fikri merasa dirinya sudah tidak pantas menjadi teman Edo karena iya telah membuat Edo terluka. Melihat Fikri yang sedih, pak Subardi dan bu Suri pun berusah memberi nasihat kepada Fikri atas kejadian yang menimpa keluarga nya dan warga sekitar.

Keesokan harinya, Fikri pun memberanikan diri untuk menemui Edo di kamar pengungsiannya. Belum juga masuk ke kamar Edo, Fikri pun tak kuasa menahan air matanya yang berlinang. Ia menangis dan berlari untuk memeluk Edo yang sedang berbaring di kasurnya.

“Edo!!! Maafin aku, karena aku kamu jadi begini” kata fikri sambil menangis

“apaan sih Fikri, aku tidak apa-apa. Ini semua bukan salah kamu, aku seharusnya berterimakasih ke kamu karena kamu kemarin telah membantu aku untuk brlindung dan menaiki pohon kelapa tersebut. Terimakasih juga udah menggenggam erat tangan aku, walaupun aku sudah tidak bisa menahan genggaman kamu” balasan Edo sambil memeluk Fikri

Mereka pun saling memaafkan dan berpelukan. Disisi lain pun bu Ida dan bu Suri saling memaafkan atas keributan yang terjadi selama ini. Akhirnya Fikri pun mengambil banyak pelajaran dari bencana tsunami ini, ia pun merasa bersyukur karena ia dan keluarga beserta teman yang ia sayangi masih diberi kesempatan untuk bertemu dan melanjutkan hidup bersama.

 

 

~Selesaii~

 

 

Komentar

  1. Nama : Rika Setiani Nf
    Kelas : Xii Mipa 2

    Ceritanya bagus dan keren

    BalasHapus
  2. Latifa Shalma (XII MIPA 2)
    Ceritanya kerasa singkat padahal panjang, ya! Mungkin karena ceritanya seru, makanya bacanya juga jadi cepet dan enjoy banget. Ga kerasa tiba tiba ada di akhir cerita aja. Good job, Sabil!👌

    BalasHapus
  3. masya allah keren banget sih! terbawa suasana tokoh juga..
    terharu, sedih, kesel bercampur aduk:"
    goodjob, bil<3

    BalasHapus
  4. Dwi Afifah (12Mipa2)
    Wah, ceritannya sangat menarik sekalii, hebatt

    BalasHapus
  5. Risanda Aulia Puteri (28) XII MIPA 2

    mantap sabil ceritanya baguss, feelnya dapet, walaupun masih ada ketidaktepatan dalam penulisan dan penggunaan kata, ceritanya mudah dimengerti 👍🏻

    BalasHapus
  6. Devini Aulia N S (05) XII MIPA 5
    Mantap bil, emosinya kerasa banget. Mantap lah

    BalasHapus
  7. Ceritanya baguss, bahasanya mudah dimengerti dan strukturnya sudah sesuai. Sukses selalu bil

    BalasHapus
  8. Ceritanya menyetuh hati membuat para pembaca terhanyut dalam alur cerita. Mantapp bill🙌

    BalasHapus
  9. Ceritanya keren banget ! Nagih banget jadi ingin baca terus 👍🏻 SEMANGAT SABIL! Tetap kreatif dan selalu berkarya!

    BalasHapus

Posting Komentar